Nama : Siti Maryam Khotib
Prodi : Manajemen pendidikan Islam (MPI)
Matkul : Sistem Informasi Manajemen
Tugas ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem manajemen informasi
Dosen Pengampu : Ibu Hana Lestari M. Pd
Analasis Tanggapan orang tua mengenai efektivitas pembelajaran daring di tengah pandewi covid19
PENDAHULUAN.
Latar Belakang Masalah
Proses pembelajaran merupakan salah satu unsur penting untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran itulah terjadi proses transformasi ilmu pengetahuan serta nilai-nilai. Ketika proses pembelajaran berlangsung, terjadi interaksi antara guru dengan siswa yang memungkinkan bagi guru untuk dapat mengenali karakteristik serta potensi yang dimiliki siswa. Demikian pula sebaliknya, pada saat pembelajaran siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya sehingga potensi tersebut dapat dioptimalkan. oleh karena itu, pendidikana bukan lagi memberikan stimulus akan tetapi usaha mengembangkan potensi yang dimiliki. Pengetahuan itu tidak diberikan, akan tetapi dibangun oleh siswa ( Wina Sanjaya, 2009: 102).
Untuk dapat mengenali dan mengembangkan potensi siswa tentunya dalam proses pembelajaran perlu pembelajaran yang bersifat aktif.
Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator serta pembimbing. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuannya seperti mengemukakan pendapat, berpikir kritis, menyampaikan ide atau gagasan dan sebagainya. Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Ketika siswa pasif, atau hanya menerima dari pengajar ada kecenderungan untuk melupakan apa yang telah diberikan pengajar (Hisyam Zaini, 2008: XIV).
Pada kenyataanya proses pembelajaran masih dominan terpusat pada guru, salah satu indikatornya yaitu pembelajaran masih dominan dengan metode ceramah dan siswa lebih banyak pasif, sebagai pendengar. Okezone.com memberitakan bahwa dalam menyampaikan penjelasan, guru di Indonesia terlalu panjang lebar. Selain itu, durasi pembelajaran selama 80 menit membuat guru kurang cermat dalam merancang pembelajaran. Tanpa sadar itu sudah menjadi budaya guru-guru di Indonesia.
Namun ,Sejak surat keputusan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terbit mengenai upaya pencegahan dan penyebaran Corona, semua kegiatan pembelajaran konvensional mulai diliburkan sementara waktu. Kegiatan pendidikan berasa mengalami lockdown. Sistem pembelajaran konvensional yang dilaksanakan oleh sebagian guru perlahan terkikis dan tergantikan dengan berbagai aplikasi pembelajaran daring yang dapat memberi ruang interaksi langsung antara guru dengan siswa tanpa harus bertemu langsung.
Guru, siswa, bahkan orang tua dipaksa untuk beradaptasi secara cepat dengan metode ini. Memang, di tengah situasi yang seperti ini, metode daring dirasa solusi yang paling tepat untuk dilakukan. Meski sekolah diliburkan, tetapi tuntutan dalam proses pembelajaran masih dapat terlaksana dan tercapai. Namun, jika dalam kondisi normal, banyak celah kekurangan dari metode daring ini.
Minimnya pengetahuan teknologi guru, siswa dan orang tua menjadi salah satu permasalahan pengaplikasian metode daring ini. Meskipun sebagai guru harus selalu memperkaya dan mengupgrade keilmuan, tetapi diminta untuk beradaptasi dan menguasai berbagai aplikasi yang mendukung pembelajaran daring dengan cepat tidaklah mudah.
Tidak hanya guru, siswapun demikian. Mungkin untuk siswa-siswa SMP, SMA atau SMK, mempelajari dan menguasai aplikasi daring ini dengan cepat, dapat dilakukan. Tetapi untuk para siswa SD, hal ini dirasa cukup sulit dilakukan. Akhirnya, mau tidak mau orang tua diminta untuk terlibat dalam pembelajaran daring ini.
Orang tua dengan latar belakang pendidikan yang tinggi akan mudah beradaptasi. Sementara orang tua dengan latar belakang pendidikan rendah, akan pasrah-pasrah saja jika putra putrinya selama berminggu-minggu tidak dapat mengikuti proses pembelajaran, bahkan tidak mendapat nilai. Bagaimana tidak, mereka mungkin tidak hanya gagap akan teknologi, bahkan bisa sampai buta teknologi. Bahkan ada pula siswa yang terkendala tidak memiliki alat komunikasi yang memadai dikarenakan kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu.
Lebih lanjut, lemahnya jaringan internet juga dirasa menjadi kendala yang sering dialami oleh para guru. Hal ini terutama bagi guru dan siswa yang tinggal di daerah pedesaan atau pedalaman, akan sangat sulit untuk mendapatkan akses internet. Padahal, ini merupakan salah satu faktor penting terlaksananya pembelajaran daring.
Latar belakang siswa juga perlu diperhatikan sebelum diberlakukannya metode daring ini.Tidak semua siswa berasal dari keluarga dan lingkungan yang baik-baik saja. Terdapat siswa yang berasal dari anak-anak broken home, lingkungan tempat tinggal yang sangat tidak mendukung (sebagai contoh tinggal di pemukiman yang banyak preman, banyak peminum), serta anak-anak dari keluarga yang kurang mendukung kegiatan pendidikan.
Hal ini akan menjadi tantangan sangat berat bagi guru jika ingin mengaplikasikan metode daring ini. Tentunya guru akan bekerja ekstra keras agar siswa mau mengikuti model kelas daring ini. Padahal saat pembelajaran konvensional saja, tidak banyak dari siswa spesial ini yang mau memperhatikan dan berkontribusi saat pembelajaran, mereka sudah mau bersekolah saja, sudah sangat bersyukur.
Pembelajaran konvensional meski dirasa kuno, namun tetap memiliki kelebihan tersendiri. Psikologi siswa akan terbentuk jika siswa bertemu langsung dengan gurunya. Mereka bisa mengingat gaya mengajar gurunya dan akan sangat diingat di pikiran mereka karena mengajar tidak hanya untuk mendapatkan ilmu tetapi lebih kepada pembentukan karakter. Hubungan emosional antara guru dan siswa yang terbentuk selama pembelajaran konvensional akan sangat membantu bagi keberhasilan siswa.
Meskipun ada banyak aspek yang perlu diperhatikan pada saat penerapan metode daring, metode ini juga memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya guru dan siswa akan semakin melek teknologi dan mengikuti perkembangan jaman, kegiatan pembelajaran tidak terbatas pada waktu dan tempat, sumber pembelajaran juga tidak terbatas hanya pada guru tetapi dari sumber lain, kreativitas dan kekritisan siswa akan semakin keluar, guru akan semakin kreatif menggabungkan berbagai macam media ajar online, guru tidak lagi terbebani dengan koreksi tugas siswa secara manual, serta penggunaan kertas akan semakin berkurang karena teralihkan melalui aplikasi online.
Pada akhirnya, di setiap metode pembelajaran memang terdapat kelebihan dan kekurangan. Namun sudah menjadi tugas guru untuk menentukan metode, gaya ataupun teknik mengajar yang sesuai dengan karakteristik siswa yang didampingi. Karena kembali lagi, mengajar adalah sebuah seni untuk pembentukan karakter, kreativitas, kekritisan, dan sifat kepedulian siswa. Tidak hanya terfokus pada penyampaian ilmu saja.
Pembahasan
Sejak kasus virus corona mulai meningkat, sekolah atau universitas saat ini tidak lagi melakukan aktivitas seperti biasanya, karena pemerintah memberlakukan sistem di rumah saja maka kegiatan belajar mengajar baik formal atau informal yang setiap hari dilakukan oleh peserta didik semuanya harus dilakukan dirumah saja.
Salah satu langkah yang tepat dalam situasi seperti ini adalah memanfaatkan teknologi jaringan dan teknologi informasi bagi pengembangan sistem pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yaitu dengan model pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online learning model (OLM) antar sekolah atau perguruan tinggi.
Peranan teknologi dalam pendidikan memiliki peranan tersendiri yakni membantu kegiatan proses belajar mengajar apalagi di saat pandemi seperti ini sehingga pembelajaran yang dilakukan melalui media cetak serta media sosial lainnya yang dianjurkan oleh pemerintah hal ini menjadi solusi yang tepat .
Oleh karena itu, disini kami mencoba untuk meneliti Tanggapan orang tua mengenai efektivitas pembelajaran daring di tengah pandemi covid19. Penelitian ini dalam bentuk kuesioner. Kuesioner ini sebagai alat untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan pembelajaran daring di tengah pandemi covid19. Kuesioner ini di berikan kepada 24 orang responden yang antara lain bertujuan untuk mengetahui tanggapan dari setiap orang tua siswa mengenai efektivitas pembelajaran daring.
HASIL PENELITIAN
A. Data Responden
Pembahasan pertama yaitu mengenai profil dari 24 responden yang mana menyangkut data pribadi responden yang telah mengisi kuesioner efektivitas pembeljaran daring .
B. Analisis Data
Dalam kuesioner terdapat 7 soal yang harus di isi oleh orang tua peserta didik .
Berikut adalah jawaban hasil analisis data dari masing-masing soal.
1. Pada soal ini membahas mengenai perannya orangtua dalam membantu pembelajaran daring, dan menyatakan bahwa sebagian orang tua sangat berperan dalam pembelajaran daring karena sebagian besar yang mengisi data ini adalah orang tua peserta didik dari jejang SD.

2. Soal ini membahas mengenai kendala atau tidak nya peserta didik dalam melakukan pembelajaran online. Dan peserta didik yang mendapat kendala.
3. Soal ini membahas mengenai kepedulian orang tua dalam pembelajaran daring yang di lakukan anaknya . Dari data yang ada Menyatakan bahwa sebagian orang tua peduli terhadap pembelajaran anaknya. Memang masih ada orangtua yang tidak peduli atau tidak termotivasi dalam membantu anak nya dalam pembelajaran daring ini , dikarenakan peserta didik sudah dapat melakukan sendiri , seperti pada jenjang SMA dan perguruan tinggi.
4. Soal ini membahas mengenai tanggapan tentang materi yang diberikan pada tayang di televisi sudah atau tidak nya memenuhi standar materi pembelajaran .pada data ini menyatakan bahwa hampir seimbang.
5.soal ini membahas mengenai keluhan peserta didik terhadap pembelajaran daring ini .

Terdapat beberapa tanggapan berupa kendala atau hambatan dalam melakukan pembelajaran daring. Saya menyimpulkan dari semua tanggapan adalah ada pada jaringan atau koneksi internet selalu terdapat gangguan, dan yang sangat terbesar ialah banyak nya orangtua yang gaptek (gagap teknologi) yang mempersulit peserta didik jenjang TK, SD , dan SMP untuk meminta bantuan kepada orang tua , atau menanyakan hal yang tidak dipahami nya.
Tidak hanya itu, dari data ini saya meminta orang tua untuk memberikan pendapat pembelajaran daring di rumah saja ,agar tetap berjalan dengan baik dan membuat senang dalam pelaksanaannya. Saya menyimpulkan dari semua pendapat bahwa orangtua meminta untuk Menggunakan animasi dalam pembelajaran terutama untuk anak paud atau SD, Tidak memberikan tugas-tugas dalam satu waktu dan ketika pembelajaran daring ini para guru tidak hanya memberikan tugas, tapi juga dengan memberikan materi yang lengkap untuk memudahkan peserta didik menyelesaikan tugasnya dan tidak memberikan tugas berlebih dengan catatan harus dimaksimalkan materi melalui pertemuan online. Kemudian meminta untuk menyiapkan akses internet yang lancar, media yang memadai dan dengan memberikan peserta didik subsidi kuota .
Kesimpulan
Sejak kasus virus corona mulai meningkat, sekolah atau universitas saat ini tidak lagi melakukan aktivitas seperti biasanya, karena pemerintah memberlakukan sistem di rumah saja maka kegiatan belajar mengajar baik formal atau informal yang setiap hari dilakukan oleh peserta didik semuanya harus dilakukan dirumah saja.
Salah satu langkah yang tepat dalam situasi seperti ini adalah memanfaatkan teknologi jaringan dan teknologi informasi bagi pengembangan sistem pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yaitu dengan model pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online learning model (OLM) antar sekolah atau perguruan tinggi.
Peranan teknologi dalam pendidikan memiliki peranan tersendiri yakni membantu kegiatan proses belajar mengajar apalagi di saat pandemi seperti ini sehingga pembelajaran yang dilakukan melalui media cetak serta media sosial lainnya yang dianjurkan oleh pemerintah hal ini menjadi solusi yang tepat .
Pembelajaran daring memungkinkan pengajar dan peserta didik untuk tidak perlu berada pada tempat dan waktu yang sama untuk melangsungkan pembelajaran dengan begitu pembelajaran daring ini membantu dalam tetap berjalan nya pembelajaran di tengah pandemi covid 19 ini .Walaupun masih terdapat keluhan antara peserta didik,pengajar, dan orangtua karena masih belum terbiasa dengan sistem pembelajaran daring ini .Namun, ini semua bisa ditutupi kekurangan pembelajaran daring ini , untuk saling bekerja sama dan saling mendukung antara peserta didik , pengajar dan orangtua di tengah pandemi covid 19 ini.
Daftar pustaka
https://docs.google.com/forms/d/1ORyX34d--_3EI_jWchtsOATYPcA6f_Ox4263ImmuJjI/edit#responses
http://westalqornicenter.blogspot.com/2014/11/e-learning.html?m=1
http://suaraguruonline.com/pembelajaran-daring-sebagai-solusi/
Prodi : Manajemen pendidikan Islam (MPI)
Matkul : Sistem Informasi Manajemen
Tugas ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem manajemen informasi
Dosen Pengampu : Ibu Hana Lestari M. Pd
Analasis Tanggapan orang tua mengenai efektivitas pembelajaran daring di tengah pandewi covid19
PENDAHULUAN.
Latar Belakang Masalah
Untuk dapat mengenali dan mengembangkan potensi siswa tentunya dalam proses pembelajaran perlu pembelajaran yang bersifat aktif.
Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru tetapi berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator serta pembimbing. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuannya seperti mengemukakan pendapat, berpikir kritis, menyampaikan ide atau gagasan dan sebagainya. Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Ketika siswa pasif, atau hanya menerima dari pengajar ada kecenderungan untuk melupakan apa yang telah diberikan pengajar (Hisyam Zaini, 2008: XIV).
Pada kenyataanya proses pembelajaran masih dominan terpusat pada guru, salah satu indikatornya yaitu pembelajaran masih dominan dengan metode ceramah dan siswa lebih banyak pasif, sebagai pendengar. Okezone.com memberitakan bahwa dalam menyampaikan penjelasan, guru di Indonesia terlalu panjang lebar. Selain itu, durasi pembelajaran selama 80 menit membuat guru kurang cermat dalam merancang pembelajaran. Tanpa sadar itu sudah menjadi budaya guru-guru di Indonesia.
Namun ,Sejak surat keputusan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terbit mengenai upaya pencegahan dan penyebaran Corona, semua kegiatan pembelajaran konvensional mulai diliburkan sementara waktu. Kegiatan pendidikan berasa mengalami lockdown. Sistem pembelajaran konvensional yang dilaksanakan oleh sebagian guru perlahan terkikis dan tergantikan dengan berbagai aplikasi pembelajaran daring yang dapat memberi ruang interaksi langsung antara guru dengan siswa tanpa harus bertemu langsung.
Guru, siswa, bahkan orang tua dipaksa untuk beradaptasi secara cepat dengan metode ini. Memang, di tengah situasi yang seperti ini, metode daring dirasa solusi yang paling tepat untuk dilakukan. Meski sekolah diliburkan, tetapi tuntutan dalam proses pembelajaran masih dapat terlaksana dan tercapai. Namun, jika dalam kondisi normal, banyak celah kekurangan dari metode daring ini.
Minimnya pengetahuan teknologi guru, siswa dan orang tua menjadi salah satu permasalahan pengaplikasian metode daring ini. Meskipun sebagai guru harus selalu memperkaya dan mengupgrade keilmuan, tetapi diminta untuk beradaptasi dan menguasai berbagai aplikasi yang mendukung pembelajaran daring dengan cepat tidaklah mudah.
Tidak hanya guru, siswapun demikian. Mungkin untuk siswa-siswa SMP, SMA atau SMK, mempelajari dan menguasai aplikasi daring ini dengan cepat, dapat dilakukan. Tetapi untuk para siswa SD, hal ini dirasa cukup sulit dilakukan. Akhirnya, mau tidak mau orang tua diminta untuk terlibat dalam pembelajaran daring ini.
Orang tua dengan latar belakang pendidikan yang tinggi akan mudah beradaptasi. Sementara orang tua dengan latar belakang pendidikan rendah, akan pasrah-pasrah saja jika putra putrinya selama berminggu-minggu tidak dapat mengikuti proses pembelajaran, bahkan tidak mendapat nilai. Bagaimana tidak, mereka mungkin tidak hanya gagap akan teknologi, bahkan bisa sampai buta teknologi. Bahkan ada pula siswa yang terkendala tidak memiliki alat komunikasi yang memadai dikarenakan kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu.
Lebih lanjut, lemahnya jaringan internet juga dirasa menjadi kendala yang sering dialami oleh para guru. Hal ini terutama bagi guru dan siswa yang tinggal di daerah pedesaan atau pedalaman, akan sangat sulit untuk mendapatkan akses internet. Padahal, ini merupakan salah satu faktor penting terlaksananya pembelajaran daring.
Latar belakang siswa juga perlu diperhatikan sebelum diberlakukannya metode daring ini.Tidak semua siswa berasal dari keluarga dan lingkungan yang baik-baik saja. Terdapat siswa yang berasal dari anak-anak broken home, lingkungan tempat tinggal yang sangat tidak mendukung (sebagai contoh tinggal di pemukiman yang banyak preman, banyak peminum), serta anak-anak dari keluarga yang kurang mendukung kegiatan pendidikan.
Hal ini akan menjadi tantangan sangat berat bagi guru jika ingin mengaplikasikan metode daring ini. Tentunya guru akan bekerja ekstra keras agar siswa mau mengikuti model kelas daring ini. Padahal saat pembelajaran konvensional saja, tidak banyak dari siswa spesial ini yang mau memperhatikan dan berkontribusi saat pembelajaran, mereka sudah mau bersekolah saja, sudah sangat bersyukur.
Pembelajaran konvensional meski dirasa kuno, namun tetap memiliki kelebihan tersendiri. Psikologi siswa akan terbentuk jika siswa bertemu langsung dengan gurunya. Mereka bisa mengingat gaya mengajar gurunya dan akan sangat diingat di pikiran mereka karena mengajar tidak hanya untuk mendapatkan ilmu tetapi lebih kepada pembentukan karakter. Hubungan emosional antara guru dan siswa yang terbentuk selama pembelajaran konvensional akan sangat membantu bagi keberhasilan siswa.
Meskipun ada banyak aspek yang perlu diperhatikan pada saat penerapan metode daring, metode ini juga memiliki beberapa kelebihan. Di antaranya guru dan siswa akan semakin melek teknologi dan mengikuti perkembangan jaman, kegiatan pembelajaran tidak terbatas pada waktu dan tempat, sumber pembelajaran juga tidak terbatas hanya pada guru tetapi dari sumber lain, kreativitas dan kekritisan siswa akan semakin keluar, guru akan semakin kreatif menggabungkan berbagai macam media ajar online, guru tidak lagi terbebani dengan koreksi tugas siswa secara manual, serta penggunaan kertas akan semakin berkurang karena teralihkan melalui aplikasi online.
Pada akhirnya, di setiap metode pembelajaran memang terdapat kelebihan dan kekurangan. Namun sudah menjadi tugas guru untuk menentukan metode, gaya ataupun teknik mengajar yang sesuai dengan karakteristik siswa yang didampingi. Karena kembali lagi, mengajar adalah sebuah seni untuk pembentukan karakter, kreativitas, kekritisan, dan sifat kepedulian siswa. Tidak hanya terfokus pada penyampaian ilmu saja.
Pembahasan
Sejak kasus virus corona mulai meningkat, sekolah atau universitas saat ini tidak lagi melakukan aktivitas seperti biasanya, karena pemerintah memberlakukan sistem di rumah saja maka kegiatan belajar mengajar baik formal atau informal yang setiap hari dilakukan oleh peserta didik semuanya harus dilakukan dirumah saja.
Salah satu langkah yang tepat dalam situasi seperti ini adalah memanfaatkan teknologi jaringan dan teknologi informasi bagi pengembangan sistem pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yaitu dengan model pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online learning model (OLM) antar sekolah atau perguruan tinggi.
Peranan teknologi dalam pendidikan memiliki peranan tersendiri yakni membantu kegiatan proses belajar mengajar apalagi di saat pandemi seperti ini sehingga pembelajaran yang dilakukan melalui media cetak serta media sosial lainnya yang dianjurkan oleh pemerintah hal ini menjadi solusi yang tepat .
Oleh karena itu, disini kami mencoba untuk meneliti Tanggapan orang tua mengenai efektivitas pembelajaran daring di tengah pandemi covid19. Penelitian ini dalam bentuk kuesioner. Kuesioner ini sebagai alat untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan pembelajaran daring di tengah pandemi covid19. Kuesioner ini di berikan kepada 24 orang responden yang antara lain bertujuan untuk mengetahui tanggapan dari setiap orang tua siswa mengenai efektivitas pembelajaran daring.
HASIL PENELITIAN
A. Data Responden
Pembahasan pertama yaitu mengenai profil dari 24 responden yang mana menyangkut data pribadi responden yang telah mengisi kuesioner efektivitas pembeljaran daring .
Dalam kuesioner terdapat 7 soal yang harus di isi oleh orang tua peserta didik .
Berikut adalah jawaban hasil analisis data dari masing-masing soal.
1. Pada soal ini membahas mengenai perannya orangtua dalam membantu pembelajaran daring, dan menyatakan bahwa sebagian orang tua sangat berperan dalam pembelajaran daring karena sebagian besar yang mengisi data ini adalah orang tua peserta didik dari jejang SD.

2. Soal ini membahas mengenai kendala atau tidak nya peserta didik dalam melakukan pembelajaran online. Dan peserta didik yang mendapat kendala.

3. Soal ini membahas mengenai kepedulian orang tua dalam pembelajaran daring yang di lakukan anaknya . Dari data yang ada Menyatakan bahwa sebagian orang tua peduli terhadap pembelajaran anaknya. Memang masih ada orangtua yang tidak peduli atau tidak termotivasi dalam membantu anak nya dalam pembelajaran daring ini , dikarenakan peserta didik sudah dapat melakukan sendiri , seperti pada jenjang SMA dan perguruan tinggi.

4. Soal ini membahas mengenai tanggapan tentang materi yang diberikan pada tayang di televisi sudah atau tidak nya memenuhi standar materi pembelajaran .pada data ini menyatakan bahwa hampir seimbang.

5.soal ini membahas mengenai keluhan peserta didik terhadap pembelajaran daring ini .

Terdapat beberapa tanggapan berupa kendala atau hambatan dalam melakukan pembelajaran daring. Saya menyimpulkan dari semua tanggapan adalah ada pada jaringan atau koneksi internet selalu terdapat gangguan, dan yang sangat terbesar ialah banyak nya orangtua yang gaptek (gagap teknologi) yang mempersulit peserta didik jenjang TK, SD , dan SMP untuk meminta bantuan kepada orang tua , atau menanyakan hal yang tidak dipahami nya.
Tidak hanya itu, dari data ini saya meminta orang tua untuk memberikan pendapat pembelajaran daring di rumah saja ,agar tetap berjalan dengan baik dan membuat senang dalam pelaksanaannya. Saya menyimpulkan dari semua pendapat bahwa orangtua meminta untuk Menggunakan animasi dalam pembelajaran terutama untuk anak paud atau SD, Tidak memberikan tugas-tugas dalam satu waktu dan ketika pembelajaran daring ini para guru tidak hanya memberikan tugas, tapi juga dengan memberikan materi yang lengkap untuk memudahkan peserta didik menyelesaikan tugasnya dan tidak memberikan tugas berlebih dengan catatan harus dimaksimalkan materi melalui pertemuan online. Kemudian meminta untuk menyiapkan akses internet yang lancar, media yang memadai dan dengan memberikan peserta didik subsidi kuota .
Kesimpulan
Sejak kasus virus corona mulai meningkat, sekolah atau universitas saat ini tidak lagi melakukan aktivitas seperti biasanya, karena pemerintah memberlakukan sistem di rumah saja maka kegiatan belajar mengajar baik formal atau informal yang setiap hari dilakukan oleh peserta didik semuanya harus dilakukan dirumah saja.
Salah satu langkah yang tepat dalam situasi seperti ini adalah memanfaatkan teknologi jaringan dan teknologi informasi bagi pengembangan sistem pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi yaitu dengan model pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online learning model (OLM) antar sekolah atau perguruan tinggi.
Peranan teknologi dalam pendidikan memiliki peranan tersendiri yakni membantu kegiatan proses belajar mengajar apalagi di saat pandemi seperti ini sehingga pembelajaran yang dilakukan melalui media cetak serta media sosial lainnya yang dianjurkan oleh pemerintah hal ini menjadi solusi yang tepat .
Pembelajaran daring memungkinkan pengajar dan peserta didik untuk tidak perlu berada pada tempat dan waktu yang sama untuk melangsungkan pembelajaran dengan begitu pembelajaran daring ini membantu dalam tetap berjalan nya pembelajaran di tengah pandemi covid 19 ini .Walaupun masih terdapat keluhan antara peserta didik,pengajar, dan orangtua karena masih belum terbiasa dengan sistem pembelajaran daring ini .Namun, ini semua bisa ditutupi kekurangan pembelajaran daring ini , untuk saling bekerja sama dan saling mendukung antara peserta didik , pengajar dan orangtua di tengah pandemi covid 19 ini.
Daftar pustaka
https://docs.google.com/forms/d/1ORyX34d--_3EI_jWchtsOATYPcA6f_Ox4263ImmuJjI/edit#responses
http://westalqornicenter.blogspot.com/2014/11/e-learning.html?m=1
http://suaraguruonline.com/pembelajaran-daring-sebagai-solusi/



Komentar
Posting Komentar